Akhirnya, Sayuran Hidroponik Tembus Pasar Modern di Ambon, Hanya Pakai Gaba-gaba dari Aboru

Aboru Cerdas 01 September 2021
Hidroponik dengan media gaba-gaba (pelepah Pohon sagu) , pertama kali dikembangkan oleh Bobby Nahumury yang adalah sarjana Pertania Universitas Pattimura dengan menggunakan sistem rakit apung, sebagai bentuk edukasi tentang pentingnya pemanfaatan kearifan lokal kepada Masyarakat

Sayuran hidroponik menggunakan media tanam pelepah pohon sagu atau gaba-gaba kini telah masuk pasaran Kota Ambon.

Pengelola proyek, Bobby Nahumury mengatakan sayur jenis sawi yang ditanam menggunakan metode hidroponik gaba-gaba ini memiliki kualitas yang baik sehingga dijual di dua supermarket yakni Dian Pertiwi dan Friss Market.

"Saat ini sudah masuk ke supermarket salah satunya Dian Pertiwi," kata Bobby kepada TribunAmbon.com melalui sambungan telepon.

Lanjutnya, kualitas sayuran dengan bahan alam ini tak kalah jauh dari media tanam lain bahkan modal awal tak sampai Rp 7 juta.

"Dari hasil panen ini, kualitasnya bagus tidak kalah dari metode hidroponik yang biasanya, hanya berbeda di media tanamnya saja," tambah Bobby.

Bobby menjelaskan 80 paket per 450 gram mereka dapatkan dari hasil panen kali ini.

Dengan waktu pembibitan hingga panen hanya 30 hingga 45 hari.

"Lubang anakan sekitar 400an, dimasukan kedalam plastik dan dijual 450gram per plastiknya, Jadi kuantiti dan kualitas nya bagus, banyak. Untuk sekarang ini jarak panen hanya 30-45 hari," jelasnya.

Selain sayur sawi, Yayasan Tita Ina Ama, melalui  Buku Voor Aboru akan mencoba dengan sayur jenis lain seperti sawi putih, daging dan selada.

"Saat ini sedang mencoba menyemai sayur jenis lain juga seperti selada atau sawi-sawi yang lain," ungkapnya.

Sebelumnya, Yayasan Tita Ina Ama memulai proyek hidroponik dengan media tanam gaba-gaba sejak Maret 2021 lalu di Desa Aboru, Kabupaten Maluku Tengah.

Penggunaan gaba-gaba sendiri terinspirasi dari kehidupan masyarakat Aboru yang lekat dengan pohon sagu.

Selain itu,Yayasan Tita Ina Ama juga ingin membantu meningkatkan perekonomian masyarakat dengan menggunakan sumber daya alam sekitar.

"Daripada menunggu tiga bulan untuk panen kasbi dan singkong, lebih baik menggunakan media tanam gaba-gaba. Waktu panen lebih cepat dan bisa dijual kembali," tandasnya. (*)


Sumber: ambon.tribunnews.com

Bagikan

TITA INA AMA FOUNDATION

DONASI

Buku Voor Aboru